Meniru Etos Kerja Jenderal Soedirman dalam Dunia Kerja

Jenderal Soedirman adalah salah satu ikon pahlawan kemerdekaan yang selalu dikenang. Di salah satu bilangan jalan utama ibu kota sosoknya diabadikan menjadi sebuah patung setinggi 6,5 meter sedang memberi hormat.

Barangkali hanya sedikit ingatan kita yang tersisa mengenai pahlawan satu ini yang didapatkan dari buku sejarah sekolah. Bagaimanapun, banyak etos kerjanya yang dapat diteladani dalam dunia kerja.

1. Aktif dalam kegiatan Organisasi

Soedirman lahir pada tanggal 24 Januari 1917 di Purbalingga, Jawa Tengah. Memasuki usia 7 tahun, ia memperoleh pendidikan formal di Hollandsch-Indlandsche School (HIS, setingkat sekolah dasar). Ia dikenal sebagai murid yang rajin, disiplin, pandai, dan piawai bermain sepak bola.

Menginjak remaja Soedirman pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo, di mana kebanyakan guru di sana adalah nasionalis Indonesia yang turut mempengaruhi pandangannya terhadap penjajah Belanda. Di Wirotomo, ia menjadi anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik. Ia juga membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi milik Muhammadiyah.

Beragam kegiatan organisasi yang aktif digeluti Soedirman semasa Sekolah tentu menjadi salah satu faktor yang membentuk karakternya sebagai seorang pejuang kemerdekaan. Dalam dunia kerja, tidak dapat dipungkiri kegiatan organisasi yang diikuti adalah salah satu faktor yang dilirik seorang praktisi HRD dalam merekrut karyawan. Rekam jejak seseorang dalam berorganisasi dapat menggambarkan seberapa kuat soft skill yang dimiliki seseorang. Kegiatan berorganisasi di kampus sebagai contoh, membantu seorang mahasiswa untuk memupuk keterampilan seperti kepemimpinan, manajemen waktu, memecahkan masalah, hingga memperluas jaringan.

2. Menyugesti Diri dengan Pikiran Positif

Soedirman mengawali karier militernya pada usia 25 tahun di bawah didikan Jepang. Namun sebenarnya di balik keputusannya untuk menjadi tentara, ia sempat ketakutan karena kondisi kakinya yang pernah terkilir karena bermain sepak bola. Hal itu membuat sambungan tulang lutut kirinya bergeser. Meskipun demikian ia tetap bergabung dengan kemiliteran untuk membela kepentingan tanah air di atas kepentingan pribadinya.

Tidak banyak rekaman sejarah mengenai pola pikir Soedirman di balik keputusannya untuk menjadi tentara di tengah kendala yang ia alami. Namun, satu yang jelas Soedirman merupakan pribadi yang pandai menyugesti diri dengan pikiran positif. Perubahan yang baik tidak akan bisa dimulai jika tidak berasal dari kemauan kuat dari dalam diri sendiri. Dengan menyugesti diri sendiri bahwa sebuah visi dan harapan itu akan menjadi kenyataan di masa mendatang, akan muncul optimisme untuk mendorong diri sendiri agar menjadi lebih baik.

3. Mengayomi Anak Buah

Saat masih mengenyam pendidikan militer di bawah didikan tentara Jepang, Pembela Tanah Air (PETA), ia sering tidak disukai oleh tentara negeri matahari terbit itu. Pria yang memiliki sikap tegas ini kerap memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Bahkan, sikap tegasnya itu membuat dirinya hampir dibunuh oleh tentara Jepang.

Dari peristiwa tersebut kita mengetahui bagaimana Soedirman memperlakukan anak buahnya. Ia merupakan tipe pemimpin yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap bawahannya. Pentingnya kepedulian pemimpin kepada anak buah dapat menjamin soliditas tim, sehingga memperlancar proses proyek-proyek yang berlangsung. Anak buah juga akan menghargai dan menghormati atasan yang memaklumi kelemahan sambil tetap mendorongnya untuk tetap maju.

4. Tetap Berjuang di Tengah Keterbatasan

Soedirman tercatat sebagai panglima tentara yang pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Ia juga sekaligus terkenal sebagai Jendral yang pantang menyerah untuk bergerilya meski tuberkulosis akut menggerogoti paru-parunya. Ia diangkat menjadi jenderal Panglima Besar TNI pada Juni 1947. Ketika Belanda memulai agresinya pasca Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan, sang Panglima Besar memilih jalan gerilya. Meski dalam kondisi sakit-sakitan, ia pantang menyerah menghadapi serbuan penjajah.

Soedirman barangkali merupakan salah satu pejuang yang tidak mengenal kata menyerah. Meski paru-parunya dikempeskan sebelah ia tetap menganggap tujuannya tidak mustahil untuk dicapai. Syarat utama untuk membangun sikap pantang menyerah adalah memiliki tujuan yang dipandang berharga untuk dicapai. Jika kita tidak termotivasi dengan tujuan yang dicapai akan menjadi mudah bagi kita mendapatkan alasan untuk menyerah dan tidak mengambil tindakan. Sikap mental pantang menyerah bukanlah sesuatu yang didapatkan secara instan, tetapi sesuatu yang harus dibangun dan dilatih secara terus menerus.

Kemerdekaan hari ini barangkali mustahil kita rasakan tanpa kehadiran sosok seperti Jenderal Soedirman.  Selain warisan kemerdekaan dari para Pahlawan, banyak teladan yang dapat kita contoh seperti Soedirman yang aktif dalam kegiatan organisasi, pandai menyugesti diri dengan pikiran positif, peduli terhadap anak buah, dan pantang menyerah di tengah keterbatasan. Hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang dapat diimplementasikan di dunia kerja saat ini.

Jenderal Soedirman akhirnya meninggal pada usia yang relatif muda. Tanggal 29 Januari 1950 ia menghembuskan nafas terakhir di usia 34 tahun di Magelang dan jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Ibukota dan nama sebuah Perguruan Tinggi di Purwokerto. Di depan Museum Sasmitaloka, Yogyakarta, tercantum kata-katanya:

“Anak-anakku, Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga.”

No Photo

Jobsworld

Pursue your dream job here